Kuteringat penulis yang sedang naik daun, mencantumkan judul di atas di 2 novel karyanya dengan kalimat yang hampir sama, sebagai berikut, "Kalau berbuat tidak baik saja bisa nekat, kenapa berbuat baik tidak lebih nekat?"
Sudah sering kudengar komentar orang orang dekatku tentang kenekatanku.Pulang pengajian tengah malam sendiri waktu di kampung, itu sudah biasa meski harus melewati tempat hiburan malam.Pergi ke daerah daerah asing dengan hanya berbekal alamat dan mulut untuk bertanya, bagiku itu sudah cukup, dan Alhamdulillah selalu ketemu.Juga tekatku merantau ke negeri orang demi pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata di negeri sendiri dengan bekal seadanya, dan restu yang tak seratus persen dari orangtua.Niat sepenuhnya untuk ibadah bekerja.Setelah kuyakinkan Alhamdulillah restu ortu sepenuhnya kudapat.
Kuingat perantauan pertamaku ke negeri jiran beberapa tahun yang lalu hanya berbekal 75 ribu rupiah.Kemudian ke hongkong dengan bekal 150 ribu.Keyakinanku saat itu adalah hanya sudah dapat makan di penampungan sudah cukup.Alhamdulillah selama di penampungan aku selalu ditawari untuk training kerja di rumah pegawai PJTKI tempatku di proses, sehingga bisa sedikit beli lauk yang cukup bergisi dan sedikit beli pulsa untuk berkomunikasi dengan kerabat dan teman.Yang aku ingat hanyalah cita cita, dan berusaha untuk sukses dengan jalan halal.
Alhamdulillah nur hidayah telah menerangi hidupku, dan aku selalu berusaha untuk mempertahankannya.Selama ini hijab hanya bisa kukenakan tiap hari libur.Keluar pintu rumah bos dipakai, mau masuk rumah bos dilepas.Untuk menunaikan sholat 5 waktu, harus sembunyi sembunyi dan mencuri waktu, agar tidak ketahuan.Adalah dilema biasa bagi para Buruh Migran Indonesia muslim di Hongkong yang tetap ingin menegakkan din Islam, namun kurang beruntung karena mendapat bos yang tidak pengertian.
Dan kini telah hampir habis masa kontrak kerjaku di bos lama.Prosedur untuk pindah tempat kerja dan pencarian bos baru sedang dalam proses.Finish kontrak kerja 2 tahun, adalah jaminan juga referensi yang cukup bisa diandalkan untuk mencari bos baru.Aku bisa pilih pilih bos, tapi juga harus kepilih oleh bos yang sesuai dengan kriteriaku.Patokan untuk bisa menunaikan fardhu 5 waktu kupasang sebagai syarat utama.Dan di setiap interview, aku tak pernah mau untuk melepas jilbab, meski disuruh oleh agency kerjaku karena masih terlihat asing di mata masyarakat Hongkong yang minoritas muslim. Agencyku juga takut karena hijabku ini maka aku akan susah mendapatkan pekerjaan.
Sudah ada beberapa interview yang aku datangi, 5 waktu bisa kutunaikan tapi mereka keberatan dengan hijabku.Hati kecilku sungguh tak ingin melanggar syari, dan kupikir masa tenggang visaku masih cukup lama, aku tangguhkan jawaban untuk mereka.
Hari minggu itu aku datang lagi ke agency, sambil menduga duga dan berharap, mungkin aku mendapat bos impianku hari ini.Ada 3 interview, yang berkenan di hatiku cuma 1, tapi masih belum confirm, dan inteview cuma sekedar hal umum saja, akupun tak berharap banyak.Hari hampir malam aku harus pulang.Dalam perjalanan menuju KCR Station(Stasiun kereta listrik), agency menelponku.
"Majikan yang tadi mau sign contract denganmu, kamu mau tidak?" "Tanya ke dia, aku boleh sholat 5 waktu tidak?" Kudengar percakapan samar samar di seberang. "Berapa lama tiap sholat?" "Kurang lebih 5 menit" Ada percakapan samar samar. "Momandai (ga masalah), katanya" Aku tersenyum, alhamdulillah. "Aku boleh pake jilbab tidak?" Ada percakapan samar samar. "Momandai, katanya" "Oke"
Meski aku harus berjubel lagi di lautan manusia untuk kembali ke agency, namun langkahku terasa ringan, senyumku terus mengembang, sambil tak henti kulafadzkan syukurku pada Allah dalam hati.Alhamdulillah ya Allah, aku yakin bila aku ada di jalanMu, Kau akan membantuku.
Sesungguhnya orang orang yang beriman, hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu ragu.(QS:Al-Hujurat:15)
Senin, 21 Juli 2008
Lihatlah ke Dalam Hati (Tolong, Bertaubatlah...)
Dari An Nawas bin Sam'an radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda, "Kebajikan itu keluhuran akhlak sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya" (HR Muslim)
Wahai saudara/i-ku, mari kita tengok ke dalam hati kita masing-masing, ada berapa banyak perbuatan-perbuatan yang membuat hati kita was-was dan tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Jujurlah, gunakan kejernihan hatimu dalam menengok ulang ke dalam jiwa. Sungguh, hanya hati yang bersih yang kan bisa meraba noda.
Dari Wabishah bin Ma'bad radhiallahu anhu, ia berkata: ”Aku telah datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, lalu beliau bersabda: 'Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan? ' Aku menjawab: 'Benar.' Beliau bersabda: 'Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.’” (HR Ahmad dan Darimi, Hadits hasan)
Jika ada yang membuat hati kita resah, ragu-ragu dan tidak ingin agar ada oran lain yang tahu, maka berhati-hatilah, karena bisa jadi itu merupakan perbuatan dosa.
Karenanya bertaubatlah, jauhi, dan berhati-hatilah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Sebelum ajal datang menjemput dan selama kita masih merasa memiliki iman dan Islam dalam dada.
Semoga Allah selalu menunjuki dan menjaga hidayah yang telah kita terima.
Wahai saudara/i-ku, mari kita tengok ke dalam hati kita masing-masing, ada berapa banyak perbuatan-perbuatan yang membuat hati kita was-was dan tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Jujurlah, gunakan kejernihan hatimu dalam menengok ulang ke dalam jiwa. Sungguh, hanya hati yang bersih yang kan bisa meraba noda.
Dari Wabishah bin Ma'bad radhiallahu anhu, ia berkata: ”Aku telah datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, lalu beliau bersabda: 'Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan? ' Aku menjawab: 'Benar.' Beliau bersabda: 'Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.’” (HR Ahmad dan Darimi, Hadits hasan)
Jika ada yang membuat hati kita resah, ragu-ragu dan tidak ingin agar ada oran lain yang tahu, maka berhati-hatilah, karena bisa jadi itu merupakan perbuatan dosa.
Karenanya bertaubatlah, jauhi, dan berhati-hatilah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Sebelum ajal datang menjemput dan selama kita masih merasa memiliki iman dan Islam dalam dada.
Semoga Allah selalu menunjuki dan menjaga hidayah yang telah kita terima.
Melejitkan Potensi Kebaikan
Ini adalah kisah sahabat saya yang bekerja di kantor operator selular terbesar nomor tiga di Indonesia. Ketika ia diminta menceritakan pengalaman yang berkesan dalam hidupnya, ia menceritakan kisah ini. Saya yakin kisah ini dialami oleh banyak orang, termasuk oleh saya pribadi. Kisah ini menjadi menarik, karena sisi pandang yang berbeda dalam mengambil hikmah atas apa yang dialaminya. Taufik sahabat saya itu, mampu mengambil sisi hikmah positif yang patut menjadi bahan perenungan kita bersama.
Kisahnya, suatu ketika Taufik mendadak ditugaskan ke Surabaya oleh kantornya. Beberapa hari sebelumnya telah terjadi kecelakaan pesawat milik maskapai berlogo singa di sebuah bandara yang menewaskan beberapa penumpang. Ketika kantor memesankan tiket untuk Taufik, karena reservasi yang mendadak, ia mendapatkan tiket pesawat maskapai penerbangan tersebut. Waktu itu, sebelum ada pemeringkatan maskapai dan regulasi penerbangan yang ketat, reputasi maskapai itu memang cukup mengkhawatirkan. Bahkan ada media yang memplesetkan tagline yang dimilikinya, dengan tagline yang memojokkan.
Ketika Taufik menerima tiket itu, bayangannya segera tertuju kepada peristiwa dramatis ketika pesawat maskapai itu mengalami kecelakaan beberapa hari sebelumnya. Untuk membatalkan tiket itu dan memohon agar bisa menggunakan kereta api ekspress ke Surabaya, jelas sangat tidak beralasan. Bisa-bisa jika hal itu dilakukan akan menjadikan reputasinya buruk dihadapan atasan dan rekan-rekan kerjanya.
Syukurnya, Taufik adalah sahabat muslim yang cukup teguh berpegang kepada nilai-nilai keimanan. Maka sebelum keberangkatannya itu, ia banyak melakukan taqarrub kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Sholat-sholat sunnah yang biasanya ia lewatkan, menjelang keberangkatannya itu, selalu ia lakukan. Bahkan ia melakukannya lebih banyak dan lebih lama. Bayang-bayang kecelakan pesawat itu demikian menghantui dirinya. Namun ia berusaha melawannya dengan memohon pertolongan kepada Allah sebanyak yang ia bisa.
Ketika ia chek-in pada hari keberangkatan, ia mendapatkan nomor kursi yang membawanya pada ingatan yang tidak menggembirakan. Ia teringat bahwa pada saat pesawat itu mengalami kecelakaan, badan pesawatnya terpecah menjadi dua bagian, dan pecahan itu terjadi pada nomor kursi yang ia peroleh saat chek-in itu. Firasat buruk yang muncul dari ketakutannya itu segera muncul. Tanpa sadar mulutnya berbisik, “Waduh, gimana ini?!”
Saat itulah Taufik menyadari bahwa begitulah nampaknya orang yang mengalami sakaratul maut, yaitu ketika detik-detik kematian semakin mendekati dirinya. Taufik segera tersadar, tidak ada jalan lain, ia segera mengadu kepada Allah di musholla ruang tunggu keberangkatan. Di sana ia memohon keselamatan kepada Allah dengan menumpahkan air matanya yang jarang tumpah ketika ia tidak dihadapkan pada suasana seperti itu. Sungguh saat itu ia merasakan bahwa bisa jadi sholatnya adalah sholatnya yang terakhir dan doanya adalah doanya yang terakhir.
Ketika ia menyadari di sakunya cukup banyak uang tersedia, ia merasa bahwa uang itu harus diberikan kepada orang lain karena bisa jadi dirinya tidak akan memerlukan uang itu lagi. Maka kepada beberapa petugas cleaning service yang sempat ia jumpai, ia bagikan uang yang ia kantongi itu dan ia menyisakan seperlunya saja.
Setelah melakukan segala kebaikan yang bisa dilakukannya, akhirnya ia pasrah, bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya kematian itu cepat atau lambat pasti akan dialaminya. Dan Allah memberikan keputusan terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Ketika pesawat berhasil take-off dan landing dengan sempurna, dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya, syukur yang terpanjat adalah kesyukuran yang teramat sangat indah sejauh yang pernah ia rasakan. “Alhamdulillah, Alhamdulillah..” demikianlah ia berujar secara berulang-ulang ketika ia mengungkapkan rasa takjubnya atas pertolongan Allah yang dia terima.
***
Dalam kesempatan sharing kepada saya, Taufik mengungkapkan betapa dirnya terpacu melakukan amal kebaikan ketika bayang-bayang kematian hadir sangat dekat kepada dirinya. Alangkah menguntungkannya jika bayang-bayang seperti itu bisa dihadirkan kapan saja, tidak harus ketika akan bepergian atau menghadapi situasi yang kritis.
Kini, sebenarnya Taufik merindui saat-saat seperti itu terjadi, yaitu ketika bayang-bayang kematian itu bisa hadir di lubuk hatinya yang terdalam. Tetapi ia juga tidak ingin dihadapkan pada situasi genting seperti kejadian yang pernah dia alami. Bagaimanakah caranya? Boleh jadi dengan sering menghadiri pemakaman, sering bertakziyah, atau jika mau mencontoh generasi terdahulu, dengan cara berpura-pura mengubur dirinya hidup-hidup di liang lahat. Semua cara bisa dilakukan untuk mengingat kematian. Namun sesungguhnya, cara yang paling efektif dalam melejitkan amal kebaikan adalah manakala orang dihadapkan pada kondisi genting secara real, bukan hasil dari rekayasa.
Saya membayangkan bagaimana para pejuang palestina, tanpa gentar menghadapi terjangan peluru atau rudal dari pasukan zionis. Tentu saja, bayang-bayang kematian melejitkan potensi mereka untuk beramal kebaikan dan ibadah sebanyak-banyaknya. Mereka selalu berfikir, amal terbaik apakah yang seharusnya mereka persembahkan sebelum kematian mereka? Jawabnya adalah Jihad, karena disebutkan dalam sebuah hadits bahwa jihad adalah puncak dari ibadah/kebaikan.
Kita memaklumi bahwa jihad menjadi amal favorite yang sangat diperebutkan oleh para penduduk Palestina tetapi ia menjadi amal yang dilupakan oleh penduduk negeri ini. Andai kita bisa berempati, merasakan dengan sedalam-dalamnya akan kondisi dan penderitaan yang dihadapi oleh saudara-saudara kita di Palestina, bukan tidak mustahil kita bisa melejit potensi amal yang kita punya.
Hal ini adalah cara alternatif dan bisa jadi relevan bagi mereka yang “phobi” naik pesawat atau jarang menghadapi situasi yang genting seperti yang dialami oleh Taufik sahabat saya itu.
Kisahnya, suatu ketika Taufik mendadak ditugaskan ke Surabaya oleh kantornya. Beberapa hari sebelumnya telah terjadi kecelakaan pesawat milik maskapai berlogo singa di sebuah bandara yang menewaskan beberapa penumpang. Ketika kantor memesankan tiket untuk Taufik, karena reservasi yang mendadak, ia mendapatkan tiket pesawat maskapai penerbangan tersebut. Waktu itu, sebelum ada pemeringkatan maskapai dan regulasi penerbangan yang ketat, reputasi maskapai itu memang cukup mengkhawatirkan. Bahkan ada media yang memplesetkan tagline yang dimilikinya, dengan tagline yang memojokkan.
Ketika Taufik menerima tiket itu, bayangannya segera tertuju kepada peristiwa dramatis ketika pesawat maskapai itu mengalami kecelakaan beberapa hari sebelumnya. Untuk membatalkan tiket itu dan memohon agar bisa menggunakan kereta api ekspress ke Surabaya, jelas sangat tidak beralasan. Bisa-bisa jika hal itu dilakukan akan menjadikan reputasinya buruk dihadapan atasan dan rekan-rekan kerjanya.
Syukurnya, Taufik adalah sahabat muslim yang cukup teguh berpegang kepada nilai-nilai keimanan. Maka sebelum keberangkatannya itu, ia banyak melakukan taqarrub kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Sholat-sholat sunnah yang biasanya ia lewatkan, menjelang keberangkatannya itu, selalu ia lakukan. Bahkan ia melakukannya lebih banyak dan lebih lama. Bayang-bayang kecelakan pesawat itu demikian menghantui dirinya. Namun ia berusaha melawannya dengan memohon pertolongan kepada Allah sebanyak yang ia bisa.
Ketika ia chek-in pada hari keberangkatan, ia mendapatkan nomor kursi yang membawanya pada ingatan yang tidak menggembirakan. Ia teringat bahwa pada saat pesawat itu mengalami kecelakaan, badan pesawatnya terpecah menjadi dua bagian, dan pecahan itu terjadi pada nomor kursi yang ia peroleh saat chek-in itu. Firasat buruk yang muncul dari ketakutannya itu segera muncul. Tanpa sadar mulutnya berbisik, “Waduh, gimana ini?!”
Saat itulah Taufik menyadari bahwa begitulah nampaknya orang yang mengalami sakaratul maut, yaitu ketika detik-detik kematian semakin mendekati dirinya. Taufik segera tersadar, tidak ada jalan lain, ia segera mengadu kepada Allah di musholla ruang tunggu keberangkatan. Di sana ia memohon keselamatan kepada Allah dengan menumpahkan air matanya yang jarang tumpah ketika ia tidak dihadapkan pada suasana seperti itu. Sungguh saat itu ia merasakan bahwa bisa jadi sholatnya adalah sholatnya yang terakhir dan doanya adalah doanya yang terakhir.
Ketika ia menyadari di sakunya cukup banyak uang tersedia, ia merasa bahwa uang itu harus diberikan kepada orang lain karena bisa jadi dirinya tidak akan memerlukan uang itu lagi. Maka kepada beberapa petugas cleaning service yang sempat ia jumpai, ia bagikan uang yang ia kantongi itu dan ia menyisakan seperlunya saja.
Setelah melakukan segala kebaikan yang bisa dilakukannya, akhirnya ia pasrah, bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya kematian itu cepat atau lambat pasti akan dialaminya. Dan Allah memberikan keputusan terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Ketika pesawat berhasil take-off dan landing dengan sempurna, dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya, syukur yang terpanjat adalah kesyukuran yang teramat sangat indah sejauh yang pernah ia rasakan. “Alhamdulillah, Alhamdulillah..” demikianlah ia berujar secara berulang-ulang ketika ia mengungkapkan rasa takjubnya atas pertolongan Allah yang dia terima.
***
Dalam kesempatan sharing kepada saya, Taufik mengungkapkan betapa dirnya terpacu melakukan amal kebaikan ketika bayang-bayang kematian hadir sangat dekat kepada dirinya. Alangkah menguntungkannya jika bayang-bayang seperti itu bisa dihadirkan kapan saja, tidak harus ketika akan bepergian atau menghadapi situasi yang kritis.
Kini, sebenarnya Taufik merindui saat-saat seperti itu terjadi, yaitu ketika bayang-bayang kematian itu bisa hadir di lubuk hatinya yang terdalam. Tetapi ia juga tidak ingin dihadapkan pada situasi genting seperti kejadian yang pernah dia alami. Bagaimanakah caranya? Boleh jadi dengan sering menghadiri pemakaman, sering bertakziyah, atau jika mau mencontoh generasi terdahulu, dengan cara berpura-pura mengubur dirinya hidup-hidup di liang lahat. Semua cara bisa dilakukan untuk mengingat kematian. Namun sesungguhnya, cara yang paling efektif dalam melejitkan amal kebaikan adalah manakala orang dihadapkan pada kondisi genting secara real, bukan hasil dari rekayasa.
Saya membayangkan bagaimana para pejuang palestina, tanpa gentar menghadapi terjangan peluru atau rudal dari pasukan zionis. Tentu saja, bayang-bayang kematian melejitkan potensi mereka untuk beramal kebaikan dan ibadah sebanyak-banyaknya. Mereka selalu berfikir, amal terbaik apakah yang seharusnya mereka persembahkan sebelum kematian mereka? Jawabnya adalah Jihad, karena disebutkan dalam sebuah hadits bahwa jihad adalah puncak dari ibadah/kebaikan.
Kita memaklumi bahwa jihad menjadi amal favorite yang sangat diperebutkan oleh para penduduk Palestina tetapi ia menjadi amal yang dilupakan oleh penduduk negeri ini. Andai kita bisa berempati, merasakan dengan sedalam-dalamnya akan kondisi dan penderitaan yang dihadapi oleh saudara-saudara kita di Palestina, bukan tidak mustahil kita bisa melejit potensi amal yang kita punya.
Hal ini adalah cara alternatif dan bisa jadi relevan bagi mereka yang “phobi” naik pesawat atau jarang menghadapi situasi yang genting seperti yang dialami oleh Taufik sahabat saya itu.
Ingin Investasi Jangka Pendek
Assalamu 'alaikum Wr Wb.
Pak Zainal, Saya punya uang Rp 3 juta yang akan saya gunakan untuk membayar SPP kuliah 5 bulan lagi. Daripada uang itu diam, sayaingin uang itu saya investasikandiselama 4 bulan. Mohon saran:
1. Mana yang lebih baik, di depositokan di bank syari'ah atau diinvestasikan di sektor riil?
2. Investasi sektor rill apa saja yang bisa saya masuki?
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Pak Ali
Jawaban
Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Pak Ali. Investasi, memiliki banyak tujuan. Dari sekian banyak tujuan yang ada, tetapkan dahulu tujuan yang ingin pak Ali dapatkan. Dan harus diingat, setiap tujuan juga memiliki resiko. Tujuan yang besar, resikonya relatif juga besar. Jika sekedar menambah nilai saja, pak Ali bisa investasikan uang itu di bank syariah sebagai deposito atau tabungan biasa, yang setiap saat bisa diambil.
Jika ingin nilainya bertambah besar, setidaknya lebih besar daripada bagihasil deposito atau tabungan, pak Ali bisa menginvestasikannya di pasar modal atau usaha riil. Resikonya, ada potensi kerugian, dan dana tidak bisa cair ketika dibutuhkan. Nah tugas pak Ali sekarang, memilih tujuan investasi, sekaligus memilih resiko. Soal usaha riil yang bisa dijalankan, saya pikir cukup banyak, tergantung dari tingkat resiko yang bisa pak Ali tanggung.
Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.
Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Jay
The Terrorist
Pak Zainal, Saya punya uang Rp 3 juta yang akan saya gunakan untuk membayar SPP kuliah 5 bulan lagi. Daripada uang itu diam, sayaingin uang itu saya investasikandiselama 4 bulan. Mohon saran:
1. Mana yang lebih baik, di depositokan di bank syari'ah atau diinvestasikan di sektor riil?
2. Investasi sektor rill apa saja yang bisa saya masuki?
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Pak Ali
Jawaban
Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Pak Ali. Investasi, memiliki banyak tujuan. Dari sekian banyak tujuan yang ada, tetapkan dahulu tujuan yang ingin pak Ali dapatkan. Dan harus diingat, setiap tujuan juga memiliki resiko. Tujuan yang besar, resikonya relatif juga besar. Jika sekedar menambah nilai saja, pak Ali bisa investasikan uang itu di bank syariah sebagai deposito atau tabungan biasa, yang setiap saat bisa diambil.
Jika ingin nilainya bertambah besar, setidaknya lebih besar daripada bagihasil deposito atau tabungan, pak Ali bisa menginvestasikannya di pasar modal atau usaha riil. Resikonya, ada potensi kerugian, dan dana tidak bisa cair ketika dibutuhkan. Nah tugas pak Ali sekarang, memilih tujuan investasi, sekaligus memilih resiko. Soal usaha riil yang bisa dijalankan, saya pikir cukup banyak, tergantung dari tingkat resiko yang bisa pak Ali tanggung.
Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.
Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Jay
The Terrorist
Langganan:
Komentar (Atom)